← Kembali ke BlogIlustrasi artikel: Alokasi Biaya Overhead Produksi: Cara UMKM Manufaktur Menghitung HPP yang Lebih Akurat

Ilustrasi AI

Operasional

Alokasi Biaya Overhead Produksi: Cara UMKM Manufaktur Menghitung HPP yang Lebih Akurat

Rekana22 Agustus 20266 menit baca
Bagikan

Kenapa Overhead Sering Jadi Titik Buta UMKM Manufaktur

Bagi banyak pemilik usaha produksi rumahan, menghitung Harga Pokok Produksi berhenti pada dua angka yang paling kelihatan: berapa biaya bahan baku dan berapa upah tukang. Keduanya memang biaya langsung, mudah ditelusuri dan mudah dikaitkan ke setiap unit barang. Kalau Anda membuat 100 potong tas, Anda tahu persis berapa meter kain dan berapa jam jahit yang terpakai.

Masalahnya, produk Anda tidak jadi hanya dari kain dan tenaga penjahit. Ada listrik yang menyalakan mesin, penyusutan mesin jahit itu sendiri, gaji supervisor yang mengawasi proses, sewa bengkel, sampai biaya perawatan alat. Inilah biaya overhead produksi: biaya yang tetap terjadi selama proses produksi tetapi tidak bisa langsung dibebankan ke satu unit tertentu. Karena tidak menempel jelas pada satu barang, overhead paling sering terlewat.

Ketika overhead diabaikan, HPP tampak lebih murah daripada kenyataannya. Anda merasa untung, padahal sebagian keuntungan itu sudah tergerus biaya listrik dan penyusutan yang tak pernah dihitung. Artikel ini fokus pada satu keterampilan yang membedakan pencatatan asal-asalan dari pembukuan yang benar: cara mengalokasikan biaya overhead produksi agar HPP-nya jujur.

Beda Biaya Langsung dan Overhead dalam Produksi

Sederhananya, biaya langsung adalah biaya yang bisa Anda tunjuk lalu berkata "ini masuk ke produk A". Bahan baku langsung seperti kain, benang, dan kancing, serta tenaga kerja langsung berupa upah penjahit yang mengerjakan produk itu, adalah dua contoh utamanya. Biayanya berubah mengikuti jumlah produksi dan mudah ditelusuri per unit.

Overhead produksi berbeda. Ia biaya penunjang yang tidak bisa ditelusuri langsung ke satu unit, dan biasa dibagi jadi tiga kelompok: bahan penolong (lem, minyak mesin, label kecil), tenaga kerja tidak langsung (supervisor, staf gudang bahan), dan overhead pabrik lain seperti listrik mesin, sewa tempat produksi, penyusutan peralatan, serta biaya perawatan. Ciri khasnya, biaya ini tetap muncul walau Anda tak bisa membaginya rata begitu saja ke tiap barang.

Yang juga penting: bedakan overhead produksi dari biaya operasional umum. Gaji admin kantor, biaya pemasaran, atau ongkos kirim ke pelanggan bukan overhead produksi. Itu beban usaha yang muncul di laporan laba rugi setelah HPP, bukan bagian dari HPP. Salah menempatkan pos-pos ini membuat HPP menggelembung atau justru kekecilan, dan keduanya sama-sama menyesatkan saat Anda menetapkan harga.

Overhead yang Paling Sering Terlewat

Tiga pos hampir selalu luput dari catatan UMKM. Yang pertama listrik dan utilitas produksi. Mesin bordir, oven roti, atau kompresor menyedot daya yang tidak kecil, tapi tagihan listrik sering dianggap biaya rumah tangga atau biaya kantor, bukan biaya produksi. Kalau tempat produksi menyatu dengan rumah, pisahkan estimasi porsi listrik yang benar-benar dipakai untuk produksi agar angkanya tidak tercampur.

Kedua, penyusutan mesin dan peralatan. Mesin seharga puluhan juta tidak dibebankan sekaligus, melainkan disebar sepanjang umur ekonomisnya sebagai penyusutan. Banyak pemilik lupa memasukkan ini karena tidak ada uang kas yang keluar tiap bulan. Padahal mesin aus dan suatu saat perlu diganti, sehingga biayanya harus tercermin di HPP. Kami membahas kebiasaan ini lebih dalam di artikel tentang penyusutan aset tetap.

Ketiga, gaji supervisor atau mandor. Orang yang mengawasi jalannya produksi tidak menjahit atau memotong sendiri, jadi upahnya tidak masuk tenaga kerja langsung. Namun tanpa dia, produksi tidak berjalan rapi. Gaji ini adalah tenaga kerja tidak langsung dan wajib masuk overhead. Hal serupa berlaku untuk iuran BPJS karyawan produksi yang kerap diperlakukan sebagai beban terpisah, padahal seharusnya menempel pada biaya tenaga kerja produksi.

Metode Alokasi Sederhana yang Realistis untuk UMKM

Karena overhead tidak bisa ditelusuri langsung, kita butuh dasar alokasi, semacam jembatan untuk membagi total overhead ke setiap produk secara adil. Untuk UMKM, dua dasar paling praktis adalah jam kerja produksi dan jumlah unit produksi.

Metode berbasis unit paling cocok bila produk Anda relatif seragam. Rumusnya: total overhead per bulan dibagi total unit yang diproduksi bulan itu. Misalnya overhead sebulan Rp6.000.000 dan Anda memproduksi 3.000 unit, maka setiap unit menyerap Rp2.000 overhead. Sederhana, dan cukup akurat selama tiap produk memakan sumber daya yang mirip.

Metode berbasis jam kerja lebih adil bila produk Anda bervariasi kompleksitasnya. Produk yang butuh 3 jam pengerjaan wajar menyerap overhead lebih besar daripada yang butuh 1 jam. Hitung tarif overhead per jam dengan membagi total overhead dengan total jam kerja produksi, lalu kalikan dengan jam yang dipakai tiap produk. Kuncinya bukan mencari metode paling canggih, melainkan memilih satu dasar yang logis lalu menerapkannya konsisten tiap periode.

Konsistensi inilah yang sulit dijaga bila catatan masih tercecer di banyak buku dan kertas. Begitu data pembelian bahan, jam kerja, dan biaya listrik tercatat rapi dan otomatis terhubung ke laporan biaya seperti alur yang difasilitasi platform pembukuan rekana, Anda tak perlu mengumpulkan angka overhead dari nol setiap akhir bulan; tarif alokasi bisa dihitung ulang dengan cepat begitu ada perubahan biaya. Perhitungan HPP dasarnya sendiri sudah kami uraikan langkah demi langkah di panduan menghitung HPP, dan artikel ini melengkapinya dari sisi overhead.

Dampak Alokasi yang Salah ke Harga Jual dan Margin

Alokasi overhead yang keliru punya efek berantai. Jika overhead terlalu rendah, atau nol karena diabaikan, HPP terlihat murah. Anda lalu menetapkan harga jual dengan margin yang tampak sehat, padahal margin sebenarnya tipis atau bahkan minus setelah listrik dan penyusutan diperhitungkan. Bisnis terasa sibuk tapi kas tidak pernah bertambah, gejala klasik yang sering ditemui.

Sebaliknya, membebankan overhead terlalu tinggi pada satu produk membuat harganya tidak kompetitif, sementara produk lain justru disubsidi secara diam-diam. Anda bisa kehilangan pasar untuk produk yang sebenarnya efisien hanya karena alokasi biaya yang tidak proporsional. Karena itu penetapan harga sebaiknya berpijak pada HPP yang sudah memuat overhead, bukan sekadar bahan dan upah. Prinsip ini kami bahas lebih jauh dalam strategi harga jual produk UMKM.

Dampaknya juga menyentuh pajak, terutama bagi UMKM yang sudah beralih dari skema PPh Final. UMKM berbentuk PT yang telah melewati batas waktu tarif final 0,5% (PP 23/2018) tidak lagi menghitung pajak dari peredaran bruto, melainkan pindah ke ketentuan umum berdasarkan pembukuan. Konsekuensinya, PPh badan dihitung menurut tarif Pasal 17, yang saat ini sebesar 22% atas penghasilan neto fiskal, bukan sekadar dari omzet. HPP yang akurat menjadi fondasi angka itu. Bila HPP meleset karena overhead tak dihitung, laba fiskal ikut bergeser dan besaran pajak terutang menjadi tidak tepat. Transisi skema ini kami ulas di artikel PPh Final vs PPh Badan.

Studi Kasus: HPP dengan dan Tanpa Overhead

Bayangkan UD Rasa Manis, produsen kue kering rumahan. Dalam sebulan mereka memproduksi 2.000 toples. Biaya bahan baku (tepung, mentega, gula, kemasan) Rp30.000.000 dan upah dua tukang adonan Rp10.000.000. Kalau berhenti di sini, HPP per toples adalah (30.000.000 + 10.000.000) dibagi 2.000, yaitu Rp20.000. Dengan harga jual Rp28.000, pemilik merasa untung Rp8.000 per toples.

Sekarang masukkan overhead yang selama ini terlewat: listrik oven Rp3.000.000, penyusutan oven dan mixer Rp1.500.000, gaji supervisor produksi Rp3.500.000, dan bahan penolong berupa kertas roti dan label Rp1.000.000. Total overhead Rp9.000.000. Dengan metode berbasis unit, overhead per toples menjadi 9.000.000 dibagi 2.000, atau Rp4.500.

Maka HPP yang sebenarnya adalah Rp20.000 ditambah Rp4.500, yakni Rp24.500 per toples. Margin riil dari harga jual Rp28.000 bukan Rp8.000, melainkan hanya Rp3.500, kurang dari setengah dugaan semula. Angka ini mengubah banyak keputusan: apakah harga perlu dinaikkan, apakah pesanan borongan dengan diskon besar masih layak, atau apakah proses produksi perlu dibuat lebih hemat energi.

Contoh sederhana ini menunjukkan overhead bukan detail rewel akuntan, melainkan selisih antara mengira untung dan benar-benar untung. Semakin besar peran mesin dan energi dalam produksi Anda, semakin besar pula risiko salah harga bila overhead diabaikan.

Menutup: Mulai dari Mencatat yang Selama Ini Terlewat

Kalau Anda pemilik usaha manufaktur atau produksi rumahan, langkah pertamanya tidak rumit. Daftar semua biaya yang terjadi di area produksi tapi selama ini tidak masuk HPP: listrik, penyusutan, gaji pengawas, bahan penolong. Pilih satu dasar alokasi yang masuk akal, unit atau jam kerja, lalu terapkan konsisten. Dari situ Anda akan melihat HPP yang jauh lebih jujur.

Bila Anda ingin memastikan angka overhead dan HPP sudah dialokasikan dengan tepat sebelum dipakai menetapkan harga atau menghitung pajak badan, tim rekana bisa menemani proses itu lewat jasa Review & Analisa Laporan Keuangan, atau sekadar membantu merapikan pencatatan biaya produksi. Tak perlu menunggu sistem sempurna. Cukup catat satu bulan penuh dengan overhead lengkap, lalu lihat wajah asli margin usaha Anda. Dari titik jujur itulah keputusan harga dan pajak jadi jauh lebih tenang untuk diambil.

Punya bisnis di bidang umkm & usaha mikro?

Lihat bagaimana rekana membantu pembukuan dan laporan keuangan khusus untuk umkm & usaha mikro.